Prof. Tutin Aryanti, S.T., M.T., Ph.D. Resmi Dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Arsitektur Sosio-Spasial: Membangun Ruang, Menyuarakan Keadilan
Bandung, 21 Mei 2025 — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) kembali menorehkan prestasi gemilang dengan dikukuhkannya Prof. Tutin Aryanti, S.T., M.T., Ph.D. sebagai Guru Besar dalam bidang Arsitektur Sosio-Spasial. Dalam acara Pengukuhan Guru Besar UPI yang berlangsung khidmat, Prof. Tutin menyampaikan orasi ilmiahnya yang bertajuk “Ruang Teraba, Ruang Wacana: Arsitektur, Keadilan Spasial, dan Narasi yang Terpinggirkan.”
Lahir di Sukoharjo, Prof. Tutin Aryanti adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecintaannya pada dunia pendidikan. Pendidikan formal ia tempuh di ITB untuk jenjang S1 dan S2, kemudian meraih gelar Ph.D. dari University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat. Disertasinya bahkan dinobatkan sebagai The Best Dissertation in Social Sciences se-Asia Pasifik tahun 2015 — tahun yang sama ketika ia meraih predikat Dosen Berprestasi UPI.
Prof. Tutin dikenal sebagai pakar arsitektur sosio-spasial. Ia menyoroti bagaimana ruang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan politis. Dalam orasi ilmiahnya, ia menekankan bahwa arsitektur dapat menjadi alat inklusi maupun eksklusi. Ruang publik, misalnya, sering kali tidak ramah terhadap perempuan, penyandang disabilitas, anak-anak, atau kelompok lansia.
Melalui pendekatan etnografis, ia menunjukkan bahwa pemisahan ruang — yang sering dianggap diskriminatif — dalam konteks tertentu bisa menjadi sarana pemberdayaan. Studi tentang musala perempuan di Kauman, Yogyakarta, menunjukkan bagaimana ruang terpisah justru memberi peluang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin ibadah dan agen perubahan sosial.
Selain aktif mengajar dan meneliti di UPI, Prof. Tutin telah menjalin kolaborasi internasional. Ia pernah menjadi Regional Advisor for Southeast Asia untuk arsitektur Islam di Michigan State University, serta research fellow di Leiden University, Belanda. Ia juga merupakan reviewer jurnal nasional dan internasional serta pembicara dalam berbagai forum ilmiah global.
Menurut Prof. Tutin, keadilan spasial adalah kunci bagi masyarakat yang inklusif. Ketidakhadiran kelompok tertentu di ruang publik bukan semata soal statistik, tetapi sering kali mencerminkan kegagalan desain dalam mengakomodasi keberagaman. Arsitektur, dalam pandangannya, harus menjadi jembatan, bukan tembok. Ia menegaskan:
“Good architecture advances spatial justice and embraces diversity.” Dengan komitmen pada inklusivitas, Prof. Tutin aktif mendorong penulisan sejarah arsitektur yang lebih reflektif dan transformatif. Ia menghadirkan narasi perempuan dalam sejarah pembangunan ruang religius, seperti pada Masjid Suciati Saliman di Yogyakarta — masjid yang dibangun dan dikelola oleh perempuan, dengan visi ruang yang inklusif dan progresif.
Bagi Prof. Tutin, karier akademik adalah bentuk ibadah, dan keluarga adalah sahabat perjalanan yang paling setia. Di sela aktivitasnya, ia menikmati berkebun, berkendara bersama keluarga, dan menciptakan keseimbangan antara kehidupan profesional dan personal.
Perjalanan Prof. Tutin Aryanti mengingatkan kita bahwa arsitektur bukan hanya tentang membangun struktur fisik, tetapi juga tentang membangun nilai, kesetaraan, dan masa depan yang lebih adil. UPI patut berbangga memiliki sosok inspiratif seperti beliau — akademisi, peneliti, ibu, dan pejuang keadilan ruang.
Selamat dan sukses kepada Prof. Tutin Aryanti, S.T., M.T., Ph.D. atas pengukuhan sebagai Guru Besar. Semoga terus menginspirasi dan menebar cahaya keadilan melalui arsitektur yang humanis.
(Kontributor: Yuyun Rohayati, Penyunting naskah: Sarah Nabila)