Logo UPI
Logo Dikti

FPTI UPI Hadirkan Workshop Microlearning Bermuatan SDGs untuk Guru SMK Dalam Rangka Membina Soft Skills Siswa

FPTI Yadi Setiadi 26 September, 2025 152

Garut, 31 Juli – 1 Agustus 2025- Bagaimana memastikan lulusan SMK tidak hanya kuat di sisi teknis, tetapi juga siap menghadapi dinamika dunia kerja? Itulah yang diupayakan Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) UPI melalui Workshop Microlearning Soft Skills bagi Guru SMK bertema “Dari Sekolah ke Dunia Nyata: Strategi Penguatan Soft Skill dalam Kerangka SDGs.” Kegiatan yang berlangsung di SMKN 15 Garut ini menghimpun 22 guru produktif serta normatif-adaptif, sebagai bagian dari komitmen FPTI UPI menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi pada bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan dukungan pendanaan RKAT FPTI UPI.

Mengapa Soft Skills Krusial untuk Lulusan SMK?
Di era serba cepat, industri bukan hanya membutuhkan tenaga yang mahir mengoperasikan teknologi, melainkan juga individu yang mampu berkomunikasi efektif, bekerja kolaboratif, adaptif, berpikir kritis, dan piawai memecahkan masalah. Keterampilan soft skills lah yang kerap menjadi pembeda. Melalui pendekatan microlearning yakni pembelajaran ringkas berdurasi 3–5 menit untuk satu kompetensi guru dapat menyisipkan latihan soft skills secara lebih terstruktur dalam pembelajaran vokasi. Dampaknya, siswa bukan hanya terampil, tetapi juga menunjukkan sikap kerja profesional.

Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Ana menyampaikan sambutan dan urgensi kegiatan


Ketua pelaksana, Prof. Dr. Ana, M.Pd., guru besar Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, menegaskan urgensi transferable skills yakni keterampilan lintas konteks yang relevan di berbagai situasi kerja. Riset beliau memperlihatkan bahwa sebagian besar transferable skills beririsan dengan soft skills yang menjadi modal penting siswa SMK untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan bersaing di dunia kerja. Ia juga menekankan keselarasan kegiatan ini dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi): memperkuat kapasitas guru berarti menyiapkan lulusan yang lebih siap kerja dan kompetitif.

Rangkaian Kegiatan yang Padu dan Interaktif
Workshop dua hari disusun dengan alur yang saling menguatkan. Hari pertama, peserta diajak brainstorming melalui pemutaran video pandangan HRD sektor kesehatan oleh Dr. Saripudin membuka wawasan tentang harapan industri terhadap lulusan SMK dan mengapa soft skills perlu berjalan beriringan dengan kompetensi teknis.


Narasumber menyampaikan topik Workshop, dari kiri: 
Dr.Eng Agus Setiawan, Prof. Dr. Ir. Dedi Rohendi, Dr. Dedy Suryadi 

Konteks tersebut kemudian menjadi pijakan hari kedua. Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si., Dekan FPTI sekaligus Koordinator UNESCO-UNEVOC Centre Indonesia, memaparkan arah kebijakan pendidikan vokasi abad ke-21, mengaitkan tuntutan global seperti green skills, deep learning, dan coding dengan kebijakan nasional. Pesan utamanya: penguatan soft skills bukan sekadar tren, melainkan bagian dari agenda kebijakan internasional untuk menyongsong transformasi kerja.
Dari payung kebijakan, Prof. Dr. Ir. Dedi Rohendi, M.T., IPM. menggeser lensa ke profil Generasi Z—mereka yang akan menghidupkan kebijakan itu di lapangan. Ia menguraikan future skills yang perlu dikuasai (4C—communication, collaboration, critical thinking, creativity—serta literasi digital) dan tantangan kolaborasi lintas generasi, sehingga peserta bisa melihat keterhubungan antara arah makro dan kebutuhan nyata profil lulusan.
Pertanyaan berikutnya: bagaimana mengajarkannya di kelas? Dr. Dedy Suryadi, M.Pd. menawarkan jawabannya lewat strategi integrasi dan desain pembelajaran adaptif, memperkenalkan pendekatan seperti Project-Based Learning, Teaching Factory, hingga role play untuk menumbuhkan soft skills secara alami dalam proses pembelajaran teknis.

Narasumber menyampaikan topik Workshop, dari kiri: 
Dr. Afridha Laily Alindra, Fajriani Ulfah Firdaus, M.Pd, dan Vina Dwiyanti, M.Pd


Agar strategi tersebut langsung bisa dieksekusi, Dr. Afridha Laily Alindra, S.Pd., M.Si. memandu Workshop Desain Modul Microlearning Soft Skills. Peserta berlatih memetakan kompetensi, merumuskan tujuan perilaku, dan merancang skenario pembelajaran singkat yang kontekstual dengan dunia kerja mengubah konsep menjadi produk modul yang siap uji coba. Menutup siklusnya, Fajriani Ulfah Firdaus, M.Pd. memaparkan teknik evaluasi: cara mengukur perkembangan soft skills secara terstruktur melalui rubrik observasi kerja tim, komunikasi, dan tanggung jawab. Dengan demikian, rangkaian materi membentuk alur utuh: dari konteks industri, kerangka kebijakan, profil peserta didik, strategi pembelajaran, perancangan modul, hingga evaluasi yang terukur.

Sepanjang proses, para fasilitator Vina Dwiyanti, M.Pd., Siti Zakiyyah, M.Pd., dan Muhammad Oka Ramadhan, S.Pd. memberikan pendampingan langsung, memastikan setiap peserta membawa pulang draf modul microlearning yang dapat segera diterapkan di kelas.

Peserta antusias dan proaktif selama workshop
Para guru menunjukkan antusiasme tinggi dan menyebut materi yang diperoleh sebagai “amunisi baru” untuk membuat pembelajaran lebih hidup dan relevan. Banyak yang menargetkan integrasi modul microlearning ke RPP serta praktik kelas pada semester mendatang. “Dengan cara ini, siswa bukan hanya siap lulus ujian, tetapi juga percaya diri lulus wawancara kerja,” ujar salah satu peserta.
FPTI UPI berharap kemitraan dengan SMK semakin erat dan pendekatan pembelajaran vokasi yang kaya soft skills dapat menjadi gerakan bersama untuk melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.
(Kontributor: M.O.R, Penyunting: S.N)