Kuliah Umum “Energi untuk Keadilan Sosial: Dari Desa ke Dunia” di FPTI UPI
Kuliah umum bertajuk “Energi untuk Keadilan Sosial: Dari Desa ke Dunia” telah diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Energi Terbarukan, Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Kamis (18/9) di Auditorium Lantai 4 Gedung A FPTI UPI. Acara yang berlangsung pukul 09.30–12.00 WIB tersebut telah dihadirkan dua narasumber utama dari Yayasan IBEKA, yaitu Ibu Tri Mumpuni (Direktur Eksekutif) dan Bapak Iskandar B. Kuntoadji (Pembina).
Acara telah dibuka dengan sambutan Kaprodi Teknik Energi Terbarukan, Dr. Bambang Trisno, M.SIE. Dalam sambutan tersebut telah disampaikan harapan agar mahasiswa dapat memperoleh wawasan mengenai peran energi terbarukan dalam mewujudkan keadilan sosial. Harapan itu telah diarahkan sejalan dengan SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) yang menekankan pentingnya akses energi berkelanjutan, serta SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan) yang menempatkan energi sebagai instrumen pemerataan pembangunan.
Sambutan berikutnya telah diberikan oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Penjaminan Mutu, Bapak Iwan Kustiawan, Ph.D. Pentingnya kolaborasi akademisi dan praktisi telah ditekankan agar mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga pemahaman nyata dari tokoh berpengalaman.
Dalam sesi utama, pengalaman pengembangan energi terbarukan di berbagai pelosok desa telah dibagikan oleh Ibu Tri Mumpuni. Energi telah ditegaskan bukan hanya aspek teknis, melainkan sarana perubahan sosial bila dikelola dengan tepat. Melalui proyek-proyek mikrohidro, masyarakat desa telah diberdayakan untuk meningkatkan taraf hidup dan mengurangi ketimpangan. Hal ini telah dikaitkan dengan SDG 7 karena energi bersih telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sekaligus dengan SDG 10 karena akses energi tersebut telah diarahkan untuk mengurangi kesenjangan antara desa dan kota.
Pandangan filosofis mengenai energi berbasis komunitas juga telah dipaparkan oleh Bapak Iskandar B. Kuntoadji. Keberlanjutan telah ditegaskan hanya dapat dicapai apabila masyarakat dilibatkan penuh sejak perencanaan hingga pengelolaan.
Sesi diskusi interaktif telah diwarnai pertanyaan mahasiswa mengenai strategi pengembangan energi di pedesaan, tantangan teknis mikrohidro, peran generasi muda, hingga keterlibatan perempuan. Dalam tanggapannya, Ibu Tri Mumpuni telah menekankan pentingnya pendekatan berbasis masyarakat serta pesan agar mahasiswa berani berinovasi dan berkontribusi nyata di lapangan.
Acara kuliah umum akhirnya telah ditutup dengan penegasan bahwa energi terbarukan harus dipandang sebagai instrumen keadilan sosial. Dengan penempatan masyarakat sebagai pusat, energi diyakini dapat dijadikan jalan menuju kemandirian bangsa sekaligus pencapaian SDG 7 dan SDG 10 dalam pembangunan berkelanjutan.