Logo UPI
Logo Dikti

FPTI UPI Gelar Kuliah Umum Internasional: Kuliner Sebagai Jembatan Persahabatan Antarbangsa

FPTI Heni 05 November, 2025 135

Bandung, 30 Oktober 2025 — Program Studi Pendidikan Tata Boga Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Kuliah Umum Internasional bertema “Kuliner Sebagai Jembatan Persahabatan Antarbangsa”, bertempat di Auditorium Gedung FPTI-A Lantai 4. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, dihadiri oleh Dekan FPTI, para Wakil Dekan, dosen, mahasiswa secara luring dan puluhan peserta lainnya secara daring.


Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Zahidah Binti Ab Latif dari Fakulti Teknikal dan Vokasional Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, dan Asep Maosul, S.Pd., M.Pd., Dosen Pendidikan Tata Boga FPTI UPI dan dimoderatori oleh Prof.  Dr. Cica Yulia, S.Pd., M.Si. Acara dibuka oleh Dr. Eng Agus Setiawan, M. Si., Dekan FPTI UPI.


Gambar 1. Pemaparan Narasumber Dr. Zahidah Binti Ab Latif


Dalam pemaparannya, Dr. Zahidah Binti Ab Latif menegaskan bahwa “Makanan adalah bahasa sejagat yang menyatukan manusia.” Ia menjelaskan bahwa kuliner bukan sekadar persoalan cita rasa, melainkan simbol hubungan budaya, sosial, dan sejarah yang diwariskan lintas generasi. “Melalui rasa, kita memahami jiwa serumpun Nusantara. Dua negara serumpun memiliki akar budaya yang sama,” ujarnya.


Lebih lanjut, Dr. Zahidah membahas tiga dimensi penting kuliner:

  1. Kuliner sebagai Cerminan Budaya — Resep tradisional mencerminkan nilai gotong royong dan kekeluargaan yang terwujud dalam setiap proses penyajian makanan. “Makanan bukan sekadar bahan, tapi warisan jiwa,” tuturnya.

  2. Kuliner sebagai Tarikan Pelancongan (Gastro Tourism) — Makanan menyatukan rakyat tanpa batas dan menjadi daya tarik wisata global. Ia mencontohkan slogan “Malaysia Truly Asia” dan “Wonderful Indonesia” sebagai simbol kekuatan pariwisata gastronomi di Asia Tenggara. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, Malaysia mencatat total belanja pariwisata sebesar RM106,783 miliar, dengan 16,1% di antaranya berasal dari sektor makanan dan minuman, meningkat 0,9% dari tahun sebelumnya.

  3. Kuliner sebagai Senjata Diplomasi — Melalui konsep Culinary Diplomacy atau Gastrodiplomacy, makanan digunakan sebagai media soft power dalam memperkenalkan identitas bangsa. Program seperti Malaysia Kitchen for the World dan Festival Kuliner Nusantara menjadi contoh nyata diplomasi rasa antarnegara. “Makanan membina diplomasi rakyat ke rakyat,” tambahnya.

Gambar 2. Pemaparan Asep Maosul, S.Pd., M.Pd.


Sementara itu, Asep Maosul, S.Pd., M.Pd. dalam materinya yang berjudul “Gastrodiplomasi Kuliner sebagai Jembatan Persahabatan Antarbangsa” menyampaikan bahwa industri pangan merupakan salah satu sektor tertua yang berkontribusi terhadap pembangunan dan pertumbuhan daerah. Menurutnya, makanan memiliki kekuatan sosial untuk menyatukan manusia dari berbagai usia, budaya, agama, dan latar belakang.


Beliau menyoroti kekayaan kuliner Indonesia yang luar biasa: memiliki lebih dari 1.000 spesies sayuran dan buah, 110 jenis rempah-rempah, serta flora nomor dua terbesar di dunia yang tidak ditemukan di negara lain. “Kekayaan rempah inilah yang membentuk keanekaragaman seni dapur Nusantara — hasil perpaduan resep leluhur dengan pengaruh budaya Arab, India, Tionghoa, Portugis, dan Belanda,” jelasnya.


Asep juga menjelaskan definisi gastrodiplomasi menurut Paul Rockower sebagai “perpaduan antara gastronomi dan diplomasi, di mana makanan digunakan sebagai instrumen soft power untuk meningkatkan citra dan pengaruh suatu negara.” Ia menegaskan bahwa gastrodiplomasi merupakan bagian penting dari soft power diplomacy, strategi yang digunakan untuk membangun pengaruh melalui budaya dan rasa.


Gambar 3. Dokumentasi Bersama


Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi. Para mahasiswa aktif bertanya seputar strategi promosi kuliner Indonesia di kancah global, inovasi kuliner berkelanjutan, hingga peluang kerja sama lintas negara di bidang pendidikan vokasi kuliner.

Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pembelajaran internasional berbasis budaya, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan) dengan penekanan pada pelestarian bahan pangan lokal, SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pariwisata gastronomi ramah lingkungan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan Bersama) lewat kolaborasi akademik antara UPI dan UPSI.


Melalui kegiatan ini, FPTI UPI memperkuat posisinya sebagai fakultas vokasional yang berwawasan global, yang tidak hanya menghasilkan tenaga ahli di bidang kuliner, tetapi juga duta budaya yang menjembatani persahabatan antarbangsa melalui cita rasa Nusantara.