Logo UPI
Logo Dikti

Dari Ruang Keluarga Sederhana Menuju Ruang Sidang Tesis: Perjuangan Andri Budiman, Wisudawan Terbaik Magister Arsitektur UPI

FPTI Heni 10 November, 2025 119

Bandung, 2025 - Siapa sangka, perjuangan seorang kepala keluarga yang setiap harinya bergulat antara pekerjaan, keluarga, dan tugas kuliah berujung manis di ruang sidang tesis. Dialah Andri Budiman, mahasiswa Program Magister Arsitektur, Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik Fakultas FPTI untuk jenjang S2 dengan IPK 3,93 dan waktu tempuh studi hanya tiga semester.


A person sitting at a computer

AI-generated content may be incorrect.

Gambar 1. Andri Budiman


Lahir di Bandung pada tahun 1982, Andri merupakan anak kelima dari enam bersaudara. Kini ia berperan sebagai seorang suami sekaligus ayah dari tiga anak. Di tengah kesibukannya menafkahi keluarga dan menjalankan tanggung jawab profesional sebagai anggota Profesional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Andri tak pernah memadamkan cita-cita lamanya: melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menyelesaikan studi Magister Arsitektur di UPI menjadi salah satu impian yang akhirnya berhasil ia wujudkan.


“Tidak disangka-sangka, saya menjadi satu-satunya perwakilan dari Fakultas FPTI jenjang S2 yang terpilih sebagai wisudawan terbaik. Dulu saya bahkan sempat harus meminjam uang hanya untuk membayar UKT,” ungkap Andri dengan senyum haru.

 

Perjuangan di Antara Dua Dunia

Bagi Andri, perjalanan menuju gelar magister bukan sekadar proses akademik, melainkan kisah perjuangan yang menguji keseimbangan antara dua dunia, “keluarga dan cita-cita. Di satu sisi, ia adalah seorang kepala keluarga yang harus memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi; di sisi lain, ia adalah mahasiswa yang dituntut untuk berpikir kritis, meneliti, dan menulis dengan ketelitian akademik.


Malam-malam panjang menjadi rutinitas yang akrab. Ketika sebagian besar orang telah beristirahat, lampu di ruang keluarga rumah Andri justru masih menyala. Di sanalah, di antara tumpukan kertas, komputer, dan mainan anak-anak, ia melakukan penelitian dan menyusun laporan tesis dengan penuh kesabaran. Laptop dan sketchbook menjadi teman setia di tasnya. Ia mengubah setiap jeda waktu menjadi ruang produktif untuk berpikir dan menulis.


Tak jarang, waktu istirahat dan akhir pekan harus dikorbankan. Namun semangatnya tidak pernah surut. Ia justru menemukan sumber energi dari keluarga yang terus mendukungnya. “Ruang keluarga sering berubah fungsi jadi studio arsitektur sekaligus ruang belajar,” candanya, mengenang suasana malam-malam penuh diskusi dan tumpukan draft revisi.

 

Dari Ruang Keluarga Menuju Sidang Tesis

A group of people posing for a photo

AI-generated content may be incorrect.

Gambar 2. Keluarga Andri Budiman


Perjuangan panjang itu akhirnya menemukan maknanya di momen sidang tesis, sebuah momen yang menjadi saksi akhir dari kerja keras, kesabaran, dan keteguhan tekad. Bagi Andri, momen tersebut bukan hanya sebuah ujian akademik, melainkan simbol perjalanan panjang seorang kepala keluarga yang berjuang menyeimbangkan cinta, tanggung jawab, dan cita-cita.


Setiap lembar revisi yang dulu ia perbaiki di ruang keluarga kini menjelma menjadi naskah tesis yang matang dan penuh makna. Di tempat yang sama, ia pernah merasa bimbang, lelah, bahkan hampir menyerah. Namun keyakinannya pada tujuan hidup membuatnya bertahan. “Saya selalu percaya, tidak ada proses yang sia-sia. Semua pengorbanan di rumah, di pekerjaan, dan di kampus akhirnya bermuara di hari ini,” ujarnya penuh rasa syukur.


Namun bagi Andri, keberhasilan menyelesaikan studi magister bukanlah garis akhir. Justru dari sinilah perjalanan baru dimulai. Ia memandang gelar Magister Arsitektur bukan sebagai puncak pencapaian, melainkan fondasi untuk terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat serta profesi yang digelutinya.

“Menjadi arsitek bukan hanya soal merancang bangunan, tapi juga membangun nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan,” tuturnya dengan penuh keyakinan.

 

Cita-Cita yang Terwujud

Bagi Andri, menyelesaikan studi magister bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi realisasi dari cita-cita masa muda yang telah lama ia genggam. “Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sudah menjadi impian sejak lama. Kini, bisa menyelesaikan Program S2 Arsitektur di UPI adalah salah satu cita-cita yang akhirnya terwujud,” ujarnya dengan haru dan bangga. Cita-citanya kini berkembang seiring dengan pengalaman akademik dan profesional yang ia jalani. Ia berharap dapat terus berkontribusi dalam dunia arsitektur, terutama dalam perencanaan kota yang lebih manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan; visi yang tumbuh dari keyakinan bahwa ruang kota harus memberi makna bagi kehidupan.


Makna di Balik Gelar

Keberhasilan ini bukan semata hasil kecerdasan akademik, tetapi buah dari komitmen, ketulusan, dan kerja keras tanpa pamrih. Ia percaya bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang prestise, tetapi juga wujud tanggung jawab intelektual terhadap profesi dan masa depan keluarga. Andri berharap pencapaiannya dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk tidak menyerah pada keterbatasan. “Selama masih ada tekad dan niat baik, tidak ada kata terlambat untuk belajar. Jangan takut bermimpi, meski harus memulai dari keterbatasan,” pesannya.


Andri Budiman membuktikan bahwa gelar akademik tertinggi bukan hanya milik mereka yang memiliki kemudahan, tetapi juga bagi mereka yang berani berjuang dan bertahan. Dari ruang keluarga sederhana, ia melangkah ke panggung wisuda dengan penuh kebanggaan, sebagai simbol nyata bahwa cita-cita, kerja keras, dan doa keluarga mampu menaklukkan segala keterbatasan. “Ilmu arsitektur bukan sekadar tentang bangunan, tetapi tentang bagaimana kita membangun kehidupan yang lebih baik bagi manusia dan lingkungannya,” pungkasnya.


Kisah Andri Budiman adalah cerminan nyata bagaimana pendidikan berkualitas (SDGs 4) dan pembangunan berkelanjutan (SDGs 11) dapat berjalan seiring melalui kerja keras, integritas, dan dukungan keluarga. Dari ruang keluarga sederhana menuju ruang sidang tesis, ia menunjukkan bahwa perjuangan untuk belajar tidak mengenal batas usia, peran, atau keadaan.