Logo UPI
Logo Dikti

Merajut Mimpi Menjadi Sarjana Pertama Keluarga: Kisah Defi, Wisudawan Terbaik Pendidikan Tata Busana UPI

FPTI Heni 10 November, 2025 140

Bandung, Oktober 2025 – Menjadi sarjana pertama dalam keluarga bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, hal itu berhasil dibuktikan oleh Defi Yuli Subehni, mahasiswa Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang lulus sebagai wisudawan terbaik program studi dengan predikat cum laude (IPK 3,88) pada Wisuda Gelombang III UPI Tahun 2025.


A person sitting on the ground with a red scarf

AI-generated content may be incorrect.

Gambar 1. Defi Yuli Subehni Lulus Yudisium


Defi adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, putri pasangan Tugimin (57) dan Towiyah (53). Lahir dan besar di Bandung, ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari usaha menjahit ibunya. Di balik kesederhanaan itu, tumbuh semangat besar untuk memperbaiki nasib keluarga melalui pendidikan. Berbeda dari stereotip anak bungsu yang manja, Defi dikenal mandiri dan pantang menyerah dalam mewujudkan mimpinya.


Sejak kecil, Defi sudah menunjukkan minat pada dunia fesyen. Hobi menggambarnya di taman kanak-kanak berkembang menjadi keterampilan menjahit di masa remaja. Ketertarikan itu ternyata diwarisi dari sang ibu yang bekerja sebagai penjahit di garment. Menyadari potensinya, Defi melanjutkan pendidikan di SMKN 9 Bandung jurusan Tata Busana, dan lulus sebagai lulusan terbaik peringkat ke-6 dari 543 siswa.


Bahkan sebelum masuk perguruan tinggi, ia telah merintis usaha menjahit custom-made dengan label “Subehshion by Defi Yuli Subehni.” Minat dan bakat itu menjadi fondasi kuat untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, meskipun sempat menghadapi penolakan dari orang tua yang khawatir akan biaya kuliah. Keinginan Defi untuk kuliah bukan tanpa hambatan. Orang tua awalnya meminta agar ia segera bekerja setelah lulus SMK. Namun, Defi yang memiliki tekad kuat untuk mengasah keterampilan dan menaikkan derajat keluarga, diam-diam mengikuti tes SBMPTN dan berhasil diterima di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).


Saat mengabarkan hasil tersebut, kekhawatiran orang tua tentang biaya kuliah muncul kembali. Dengan yakin, Defi berjanji, “Saya tidak akan meminta uang untuk kebutuhan saya selama kuliah. Saya akan berusaha sendiri mendapatkannya.” Janji itu bukan sekadar kata-kata. Tak lama kemudian, ia dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa KIP-Kuliah, hasil perjuangannya sendiri tanpa perantara. Namun, kehidupan mahasiswa di kota besar tetap tidak mudah. Perjalanan dari rumahnya di Kopo ke Kampus UPI Setiabudi setiap hari memakan waktu hingga tiga jam. Biaya transportasi dan kebutuhan praktikum kerap menipis, mendorongnya mencari penghasilan tambahan lewat bisnis jahitannya.


Defi mengandalkan usaha Subehshion sebagai sumber pendapatan utama. Ia melayani pesanan dari dosen dan pelanggan luar kampus, mengutamakan kualitas jahitan dan kepercayaan pelanggan. Usaha ini terus berkembang melalui promosi dari mulut ke mulut, tanpa perlu kampanye besar di media sosial.


A person holding bouquets of flowers

AI-generated content may be incorrect.

Gambar 2. Defi Yuli Subehni


Karyanya pun kerap dipercaya menjadi wardrobe sponsor dalam acara kampus dan kontes kecantikan (pageant). Selain itu, Defi juga bekerja sebagai desainer freelance di butik Raden Annisa Brides, tempat ia pernah magang. Pengalaman mengajarnya pun bertambah setelah melaksanakan PPPK di SMKN 2 Baleendah, di mana ia kemudian direkrut sebagai guru honorer di SMK Karya Budi Cileunyi selama satu tahun. Pendapatan dari berbagai pekerjaan ini digunakan untuk membiayai kebutuhan pribadi sekaligus membantu ekonomi keluarga, terutama setelah sang ibu mengalami kecelakaan yang membatasi aktivitasnya.


Meski waktunya terbagi antara kuliah, bekerja, dan usaha, Defi tak pernah menomorduakan akademik. Dukungan moral dari orang tua menjadi sumber semangat utama. Ayahnya setiap pagi mengantarnya ke kampus, sementara ibunya menyiapkan bekal agar ia bisa berhemat.

Ketika ditanya tentang motivasi terbesar, Defi menjawab, “Setiap kali orang tua bertanya kapan saya lulus, saya tahu mereka menunggu hasil perjuangan saya. Itu yang membuat saya tidak boleh menyerah.”

Ketekunan itu berbuah manis. Ia lulus tepat waktu dalam delapan semester dengan prestasi akademik gemilang dan langsung diterima bekerja sebagai Staf Pattern di PT Sapta Pelita Asia (About Cotton Garment).

Kisah Defi tidak hanya tentang perjuangan pribadi, tetapi juga mencerminkan semangat SDGs terutama:

·       SDG 4 – Pendidikan Berkualitas, karena Defi membuktikan bahwa akses pendidikan tinggi dapat mengubah kehidupan sosial ekonomi keluarga.

·       SDG 5 – Kesetaraan Gender, melalui perannya sebagai perempuan mandiri yang berani menempuh pendidikan dan karier di bidang teknis.

·       SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, dengan kontribusinya menciptakan lapangan kerja melalui usaha jahitannya.

Defi Yuli Subehni menjadi bukti nyata bahwa dengan tekad, kerja keras, dan pendidikan yang inklusif, siapa pun dapat merajut mimpi menjadi sarjana pertama di keluarga - jahitan demi jahitan, mimpi demi mimpi—hingga akhirnya menjadi wisudawan terbaik Pendidikan Tata Busana UPI 2025.