Dari Ilmu Menuju Aksi: Perjalanan Phylardini Haryanto dalam Mewujudkan SDGs melalui Pendidikan dan Perlindungan Anak
Bandung, Oktober 2025 — Sosok muda bernama Phylardini Haryanto berhasil menorehkan prestasi membanggakan sebagai Wisudawan Terbaik Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98. Lahir dan besar di Tangerang, Phylardini menjadi contoh nyata mahasiswa yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap isu perempuan dan anak.
Pilihan Phylardini terhadap Prodi PKK bukan tanpa alasan. Ia meyakini bahwa kesejahteraan sosial masyarakat harus dimulai dari keluarga, sebagai unit terkecil yang menjadi pondasi peradaban. Program studi ini menurutnya unik karena menggabungkan ilmu keluarga, manajemen konflik, kesejahteraan anak dan lansia, serta keterampilan praktis seperti tata boga, tata busana, dan kewirausahaan.
“PKK mempersiapkan saya menjadi agen perubahan multi-dimensi baik sebagai
pendidik, konselor, maupun pekerja sosial yang berdaya untuk keluarga
Indonesia,” ungkapnya.
Gambar 1. Phylardini
Pidato sebagai Lulusan Terbaik FPTI
Selama menempuh pendidikan di UPI, Phylardini menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menyeimbangkan prestasi akademik dengan aktivitas organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) Himadirega FPTI UPI, Sekretaris Umum DPM REMA UPI, serta Ketua Biro Jaringan Humas LDK UKDM UPI. Tidak berhenti di situ, ia juga aktif sebagai staf di IMTEK FPTI UPI dan DPA HIMA PKK.
Keterlibatan dalam organisasi di luar kampus juga menunjukkan semangat kepemimpinan dan kepedulian sosialnya. Phylardini menjadi bagian dari Forum Indonesia Muda (FIM) Regional Bandung dan Komunitas Peradaban Foundation, dua wadah yang mempertemukannya dengan berbagai anak muda lintas bidang untuk berdiskusi dan bergerak dalam isu-isu kemasyarakatan.
Dalam penelitian tugas akhirnya yang berjudul “Upaya Konselor dalam Membangun Kepercayaan Diri Anak Korban Kekerasan Seksual di DP2KBP3A Kabupaten Bandung Barat,” Phylardini menyoroti peran penting konselor dalam membantu pemulihan psikologis anak korban kekerasan seksual. Ia mengangkat isu ini karena angka kekerasan terhadap anak di Indonesia masih tinggi, termasuk di wilayah tempat penelitiannya.
Menurutnya, konselor memiliki peran strategis dalam membangun kepercayaan diri
anak pascakekerasan, sebab anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus
tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
“Jika masa tumbuh kembang anak terganggu karena trauma, bagaimana bangsa ini dapat menyiapkan generasi penerus yang kuat dan berdaya?” ungkapnya dengan penuh kepedulian. Penelitian ini bukan hanya bagian dari tugas akademik, tetapi juga bentuk komitmen moral untuk memperjuangkan kesejahteraan anak dan perempuan.
Gambar 2. Pemberian Pengahargaan Lulusan Terbaik oleh Wakil Dekan FPTI
Ketekunan dan semangat belajar Phylardini berbuah manis. Ia terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi PKK UPI Tahun 2024, menjadi peraih Silver Medal dalam ajang 2nd RAVTE Students Innovation Awards 2023 di Rajamangala University of Technology Thanyaburi (RMUTT), Thailand, serta menjadi presenter pada konferensi internasional tersebut. Tidak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi presenter dalam International Conference of Vocational Education Technology (ICOVEAT) PAPTEKINDO 2025 di Universitas Negeri Padang (UNP). Deretan capaian ini menunjukkan konsistensinya dalam membawa nama baik almamater ke tingkat nasional maupun internasional.
Meski tidak banyak menghadapi kendala akademik, Phylardini mengaku tantangan terbesar justru muncul ketika ia harus mengintegrasikan teori-teori keluarga dengan realitas sosial di lapangan.
Gambar 2. Phylardini
Berpartisipasi Aktif di Masyarakat
“Bertemu langsung dengan masyarakat membuka mata saya bahwa masalah keluarga
jauh lebih kompleks daripada yang kita pelajari di kelas,” tuturnya. Dukungan keluarga menjadi kekuatan utama dalam setiap langkahnya. Sang ayah
yang bekerja sebagai pegawai swasta dan ibunya sebagai ibu rumah tangga, meski
tidak pernah mengenyam bangku kuliah, selalu memberikan semangat tanpa henti.
“Doa dan keyakinan dari orang tua menjadi alasan saya untuk terus berjuang,”
tambahnya.
Bagi Phylardini, hidup harus dijalani dengan makna. Ia berpesan, “Nikmatilah hidupmu, buat dampak untuk orang banyak, dan bermanfaat untuk orang sekitar.” Terinspirasi dari tokoh Levi Ackerman dalam anime yang pernah ia tonton, ia memegang teguh pesan: “Satu-satunya hal yang boleh kita lakukan adalah percaya bahwa kita tidak akan menyesali pilihan yang kita perbuat.” Motto pribadinya, “Make more mistakes, to learn more,” mencerminkan semangatnya untuk terus belajar dari setiap proses kehidupan.
Setelah lulus, Phylardini berencana bekerja dan melanjutkan studi, serta terus
berkontribusi dalam bidang kesejahteraan keluarga dan perlindungan anak. Dengan
semangat dan kepedulian yang tinggi, ia menjadi contoh nyata bahwa prestasi
akademik dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan demi terciptanya
keluarga dan masyarakat Indonesia yang sejahtera.