Dari Gagasan Dr. Eng. Beta Paramita, S.T., M.T., Dosen Arsitektur FPTI UPI untuk Indonesia: RAFLESIA Model Rumah Sehat dan Terjangkau bagi Masyarakat
Bandung, 3 Maret 2026 — Prestasi akademik tidak hanya diukur melalui publikasi ilmiah, tetapi juga melalui kontribusi nyata kepada masyarakat. Dalam konteks tersebut, Dr. Eng . Beta Paramita, S.T., M.T., dosen dan peneliti Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri Universitas Pendidikan Indonesia, menghadirkan Program RAFLESIA sebagai model hunian layak, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia.
Program RAFLESIA merupakan inisiatif berbasis riset dan pengabdian kepada masyarakat yang dirancang untuk menjawab persoalan rumah tidak layak huni. Hingga tahun 2025, lebih dari 70 unit rumah telah terbangun dan tersebar di enam provinsi, yaitu Aceh, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan. Implementasi ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi bangunan dapat diintegrasikan dengan pendekatan sosial guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara langsung dan terukur.
Secara konseptual, RAFLESIA merupakan penelitian lanjutan dari inovasi material cat reflektif surya Indonesia yang sebelumnya telah berhasil melalui proses hilirisasi dan pemanfaatan industri. Dalam pengembangan hunian RAFLESIA, hasil riset tersebut diterapkan dalam skala sistem bangunan, sehingga teknologi pendinginan pasif tidak hanya digunakan sebagai produk material, tetapi menjadi bagian dari strategi desain rumah yang terintegrasi.
Secara substansi, RAFLESIA dikembangkan untuk menyediakan hunian yang aman, sehat, dan adaptif terhadap iklim tropis. Desain rumah mempertimbangkan ventilasi alami, pencahayaan optimal, serta penggunaan material ringan dan efisien energi. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya konstruksi, tetapi juga mengurangi konsumsi energi rumah tangga dalam jangka panjang. Prinsip tersebut selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan mitigasi perubahan iklim yang menjadi prioritas nasional.
Pelaksanaan program melibatkan kolaborasi multipihak, termasuk mitra industri material bangunan, tim arsitektur, serta partisipasi aktif masyarakat setempat. Model kolaboratif ini memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas teknis warga, dan penguatan kemandirian komunitas. RAFLESIA tidak berhenti pada pembangunan fisik rumah, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem hunian yang sehat dan produktif.
Dari sisi dampak, program ini telah membantu puluhan keluarga beralih dari kondisi hunian tidak layak menjadi rumah yang lebih aman dan sehat. Dampak sosial yang teridentifikasi meliputi peningkatan kenyamanan termal, pengurangan risiko kesehatan akibat kelembaban dan panas berlebih, serta peningkatan produktivitas keluarga. Penyebaran di enam provinsi menunjukkan bahwa model RAFLESIA adaptif terhadap beragam karakteristik wilayah di Indonesia.
Pada tahun 2026, Program RAFLESIA direncanakan untuk diperluas ke kota-kota lainnya dengan tetap berlandaskan prinsip inovasi teknologi tepat guna, efisiensi biaya, dan kolaborasi lintas sektor. Dengan capaian lebih dari 70 rumah serta komitmen keberlanjutan yang kuat, RAFLESIA menjadi contoh konkret kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan perumahan nasional melalui riset terapan.
Kontribusi Dr. Eng. Beta Paramita melalui RAFLESIA menegaskan bahwa integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat mampu menghasilkan dampak pembangunan yang terukur, sistematis, dan berkelanjutan bagi Indonesia (Dr. Eng. Beta Paramita/HH).