Logo UPI
Logo Dikti

Dari Sumpah Menuju Tanggung Jawab, FPTI UPI Teguhkan Profesionalisme Insinyur

Program Studi Humas FPTI 18 September, 2026 2

 

Bandung, Prosesi Angkat Sumpah Program Studi Program Profesi Insinyur FPTI UPI menandai langkah 12 lulusan memasuki dunia keinsinyuran dengan membawa kompetensi, integritas, dan tanggung jawab terhadap keselamatan serta kemaslahatan masyarakat.

Menjadi seorang insinyur bukan semata tentang kemampuan menyelesaikan persoalan teknis. Di balik sebuah desain, perhitungan, dan keputusan engineering, terdapat konsekuensi terhadap keselamatan manusia, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Prosesi Angkat Sumpah Program Studi Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Angkatan II, yang diselenggarakan di Auditorium Lantai IV Gedung A FPTI UPI, Rabu (16/9/2026).

Sebanyak 12 peserta dengan latar belakang yang beragam mengikuti prosesi pengucapan sumpah profesi insinyur. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berita angkat sumpah, penyerahan sertifikat, serta pemasangan helm insinyur sebagai bagian dari rangkaian peneguhan identitas dan tanggung jawab profesi.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., Dekan FPTI Dr. Eng. Agus Setiawan, M.Si., Para Wakil Dekan di lingkungan FPTI UPI, Ketua Program Studi PPI FPTI UPI Dr. Ir. Elih Mulyana, M.Si., IPU., serta tamu undangan. Pengucapan sumpah profesi dipimpin oleh Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Barat, Ir. Tulus Martua Sihombing, S.T., M.T., CPFF.

Namun, bagi para peserta, prosesi tersebut tidak berhenti sebagai seremoni. Ia menjadi penanda dimulainya tanggung jawab baru dalam menjalankan profesi keinsinyuran.

Hal itu tercermin dalam refleksi yang disampaikan Wakil Lulusan, Firda Hadi Permana. Menurutnya, pengalaman bekerja membuat seorang engineer tidak cukup hanya bertanya apakah suatu pekerjaan dapat diselesaikan, tetapi juga apakah pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara yang benar, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat.

“Di balik sebuah desain ada keselamatan manusia. Di balik sebuah keputusan teknis ada risiko yang diambil dan di balik setiap keputusan seorang insinyur ada tanggung jawab profesional,” ujar Firda.

Bagi Firda, pemahaman tersebut menjadi salah satu makna penting yang diperoleh selama menempuh pendidikan profesi insinyur. Menurutnya, menjadi insinyur tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Perspektif tersebut sejalan dengan arah pendidikan yang dikembangkan PPI FPTI UPI. Ketua Program Studi PPI FPTI UPI Dr. Ir. Elih Mulyana, M.Si., IPU., menjelaskan bahwa pendidikan profesi insinyur tidak diarahkan hanya untuk memperkuat kemampuan keteknikan, tetapi juga membangun pemahaman mengenai profesionalisme, kode etik, keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan (K3L), hukum, dan literasi teknologi.

Dengan demikian, pendidikan profesi menjadi ruang untuk mempertemukan kompetensi teknis dengan tanggung jawab profesional. Peserta tidak hanya memperoleh pembelajaran melalui teori, tetapi juga menjalani praktik keinsinyuran, studi kasus, penyusunan laporan, seminar, dan ujian. Model pembelajaran tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan kemampuan profesional yang relevan dengan praktik keinsinyuran.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., juga menekankan tiga tanggung jawab yang perlu melekat dalam diri seorang insinyur, yakni kompetensi teknis, tanggung jawab etika, dan tanggung jawab sosial.

“Kompetensi teknis harus didukung integritas. Yang kedua adalah tanggung jawab etika. Ketiga adalah tanggung jawab sosial,” ujar Prof. Yudi.

Sementara itu, Ir. Tulus Martua Sihombing menegaskan bahwa sumpah profesi bukan sekadar prosesi seremonial, melainkan pernyataan tanggung jawab dalam menjalankan profesi insinyur. Para lulusan diharapkan terus belajar, menjaga integritas, serta mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Bagi FPTI UPI, momentum angkat sumpah tersebut menjadi bagian dari perjalanan pendidikan profesi yang tidak berhenti ketika peserta menyelesaikan proses akademiknya. Justru setelah sumpah diucapkan, kompetensi yang telah diperoleh memasuki ruang yang lebih luas: dunia kerja, masyarakat, dan berbagai persoalan nyata yang membutuhkan keputusan-keputusan keinsinyuran yang bertanggung jawab.

Angkatan II PPI FPTI UPI sendiri mencatat pertumbuhan dibandingkan angkatan pertama yang menghasilkan enam lulusan pada 2025. Sebanyak 12 peserta pada angkatan kedua menunjukkan perkembangan partisipasi dalam pendidikan profesi insinyur di FPTI UPI.

Ke depan, PPI FPTI UPI akan terus memperkuat penyelenggaraan pendidikan profesi melalui perluasan jejaring dengan dunia industri dan lokasi praktik serta penguatan hubungan dengan alumni. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keterhubungan pendidikan profesi dengan kebutuhan praktik keinsinyuran.

Pada akhirnya, helm yang dikenakan dan sumpah yang diucapkan bukan hanya menjadi simbol sebuah profesi. Keduanya membawa pesan bahwa setiap pengetahuan dan keahlian yang dimiliki seorang insinyur akan selalu beriringan dengan tanggung jawab atas keputusan yang diambil.

Sebab, menjadi insinyur bukan hanya tentang mampu menemukan solusi, tetapi juga memastikan bahwa solusi tersebut dijalankan dengan benar, bertanggung jawab, dan memberi manfaat (HH).