Dari Konsistensi Menjadi Prestasi: Defina Ayu Raihana Lulusan Terbaik Magister Arsitektur Angkat Desain Inklusif Berbasis Neuro-Architecture
Bandung, 8 Juni 2026. Di tengah ritme perkuliahan, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab yang berjalan bersamaan, Defina Ayu Raihana berhasil meraih predikat lulusan terbaik Program Magister Arsitektur pada wisuda gelombang ke 2 tahun 2026. Pencapaian tersebut tidak lahir dari kondisi yang sepenuhnya ideal, melainkan dari konsistensi untuk tetap berjalan, bahkan ketika waktu dan energi terasa terbatas.
Dalam tesisnya, Defina mengangkat pendekatan neuro-architecture melalui perancangan ruang belajar berbasis stimulasi multisensori untuk meningkatkan produktivitas siswa, khususnya anak dengan spektrum autisme. Penelitian tersebut berfokus pada bagaimana desain ruang dapat mendukung regulasi sensorik, kenyamanan, fokus belajar, hingga kesejahteraan psikologis siswa dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Melalui pendekatan neuro-architecture, ruang dipahami bukan hanya sebagai wadah aktivitas, tetapi juga sebagai elemen yang mampu memengaruhi perilaku dan pengalaman pengguna secara langsung.
Kajian ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Quality Education, yang menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi semua. Hal ini sejalan dengan komitmen Universitas Pendidikan Indonesia dalam mengembangkan inovasi pendidikan berbasis riset dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Melalui pendekatan desain yang lebih responsif terhadap kebutuhan sensorik siswa ASD, ruang belajar diharapkan dapat menjadi lebih adaptif, aman, dan mendukung proses belajar secara lebih optimal.
Di balik pencapaian tersebut, perjalanan studi magister tidak dijalani dalam kondisi yang sepenuhnya ideal. Selama menempuh pendidikan, Defina juga menjalani pekerjaan dan berbagai tanggung jawab lain secara bersamaan. Namun, ia memilih untuk tetap melangkah secara konsisten, meskipun dalam progres kecil.
Bagi Defina, proses menyelesaikan tesis bukan hanya tentang mengejar gelar atau nilai akademik. Ada satu kalimat sederhana dari dosennya yang terus ia ingat selama proses tersebut, “tesis yang baik adalah tesis yang selesai.” Kalimat itu menjadi pengingat untuk tidak terjebak pada keinginan akan kesempurnaan yang justru dapat menghambat proses.
Di tengah kesibukan bekerja, ia memilih untuk tetap berjalan sedikit demi sedikit. Menurutnya, konsistensi jauh lebih penting dibanding menunggu waktu yang terasa benar-benar luang. Ada banyak hal yang harus ia selesaikan dan tanggung jawab yang harus ia tuntaskan, sehingga berhenti bukan menjadi pilihan yang ia ambil.
Dengan kedisiplinan, batasan yang tegas terhadap dirinya sendiri, serta dorongan dari dosen pembimbing, Defina berhasil menyelesaikan studi magister dalam waktu 1,5 tahun. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman bahwa menyelesaikan sesuatu sering kali bukan tentang siapa yang paling cepat atau paling sempurna, melainkan siapa yang mampu bertahan dan terus bergerak sampai akhir.
Ke depan, Defina berharap dapat terus mengembangkan pendekatan arsitektur yang lebih humanis, inklusif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Baginya, desain bukan hanya tentang menciptakan ruang yang baik secara visual, tetapi juga ruang yang mampu memahami manusia sebagai penggunanya secara utuh (Defina/HH).