Logo UPI
Logo Dikti

Ilmuwan Canadian Light Source Bahas Teknologi Synchrotron X-ray di Kuliah Umum FPTI UPI

Program Studi Humas FPTI 02 October, 2026 4



Program Studi Teknik Kimia dan Teknik Elektro FPTI UPI menyelenggarakan Kuliah Umum Hybrid bertema “Synchrotron X-ray: Introduction and Application” pada Rabu, 23 September 2026, bertempat di Auditorium FPTI UPI.

Kuliah umum ini menghadirkan Bapak Ronny Sutarto, Ph.D. Sebagai narasumber internasional dari REIXS Scientist di Canadian Light Source (CLS), fasilitas synchrotron nasional Kanada yang berlokasi di Saskatoon, dengan moderator Bapak Roer Eka Pawinanto, Ph.D. dari program studi Pendidikan Teknik Otomasi Industri dan Robotika, dengan bidang Microelectro Mechanical System. Kuliah umum ini merupakan salah satu implementasi program Diaspora Berdampak 2026 didanai oleh KemendiktiSaintek melalui Universitas Pendidikan Indonesia dan Prof. Dr. Ida Hamidah sebagai host.

Mengenal Teknologi Synchrotron 

Dalam paparannya, narasumber menjelaskan cara kerja synchrotron sebagai sumber cahaya generasi ketiga berenergi 2,9 GeV, yang mampu menghasilkan sinar-X dengan brilliance jutaan kali lebih tinggi dibanding sinar-X medis konvensional. CLS sendiri saat ini memiliki 22 beamline aktif dan sudah menerima lebih dari 3.000 peneliti dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Narasumber turut memaparkan sejumlah teknik eksperimental utama yang digunakan di fasilitas synchrotron, di antaranya X-ray Photoelectron Spectroscopy (XPS), X-ray Absorption Spectroscopy (XAS), X-ray Diffraction (XRD), hingga X-ray Reflectivity (XRR), lengkap dengan contoh aplikasinya pada riset material seperti graphene oxide, baterai lithium-ion, dan superkonduktor suhu tinggi.

Manfaat Lintas Sektor

Narasumber juga menunjukkan bahwa aplikasi synchrotron sebenarnya jauh lebih luas dari sekadar riset material. Beberapa contoh yang beliau sampaikan antara lain deteksi dini penyakit pada tanaman gandum untuk membantu petani, pemetaan biomarker baru dalam riset kanker, hingga studi toksisitas merkuri pada ikan zebra untuk kepentingan lingkungan. Bahkan ada juga penelitian pelajar SMA yang sempat memakai beamline CLS, seperti uji bioremediasi selenium dengan cacing tanah dan pengecekan kandungan merkuri pada krim pemutih wajah. Artinya, akses ke fasilitas synchrotron ini tidak hanya terbatas untuk peneliti senior, tapi juga terbuka bagi pelajar tingkat menengah.

Antusiasme Mahasiswa dalam Sesi Diskusi

Antusiasme peserta terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab. Para mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan mengenai pemanfaatan teknologi synchrotron untuk berbagai bidang penelitian, sekaligus menggali peluang riset dan kolaborasi internasional yang dapat dikembangkan melalui fasilitas tersebut.

Kuliah umum ini diharapkan dapat membekali mahasiswa Teknik Kimia dan Teknik Elektro dengan wawasan mendalam mengenai teknologi mutakhir serta memperluas peluang kolaborasi riset internasional, sejalan dengan komitmen FPTI UPI dalam mencetak lulusan yang unggul di bidang sains dan teknologi bagi masyarakat luas.

Kegiatan ini turut mendukung SDG 4 – Pendidikan Bermutu melalui perluasan wawasan dan pengalaman belajar mahasiswa mengenai teknologi riset mutakhir. Pengenalan teknologi synchrotron dan berbagai penerapannya dalam riset material, kesehatan, pertanian, dan lingkungan juga sejalan dengan SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya dalam mendorong pemanfaatan teknologi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Selain itu, keterlibatan ilmuwan dari Canadian Light Source serta pembahasan mengenai peluang riset lintas negara turut mendukung SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan jejaring dan peluang kolaborasi akademik internasional (Roer Eka/HH).