Logo UPI
Logo Dikti

Dr. Eng. Beta Paramita Dosen Arsitektur FPTI UPI Bangun 10 Unit Cool Shelter untuk Korban Banjir di Aceh

Program Studi Humas FPTI 04 March, 2026 164


Bandung, 3 Maret 2026 – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Pulau Sumatera pada akhir November 2025 telah menyebabkan korban jiwa serta kerusakan masif pada permukiman warga, dan memaksa banyak keluarga mengungsi dalam kondisi darurat. Di sejumlah desa di Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur, genangan air merusak struktur rumah, perabotan, serta fasilitas dasar. Dalam situasi tersebut, kebutuhan paling mendesak bukan hanya bantuan logistik, tetapi juga ketersediaan hunian sementara yang aman, layak, dan dapat segera ditempati guna melindungi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia dari paparan cuaca serta risiko kesehatan pascabencana.

Menjawab kebutuhan tersebut, Dr. Eng . Beta Paramita, S.T., M.T., dosen dan peneliti Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri Univesitas Pendidikan Indonesia menginisiasi pembangunan 10 unit Cool Shelter sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat berbasis keilmuan arsitektur dan inovasi konstruksi ringan. Program ini dilaksanakan di lima desa terdampak, yaitu Desa Simpang Tiga, Desa Meunasah Blang, Desa Tanjong Dalam, dan Desa Geudumbak di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, serta Desa Grong-Grong di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur.

Dari total 10 unit yang direncanakan, lima unit pertama telah selesai dibangun menggunakan sistem konstruksi Manual System dan telah dihuni oleh penerima manfaat. Sementara itu, lima unit tambahan saat ini sedang dalam proses pembangunan menggunakan Prefab System guna mempercepat waktu pelaksanaan di lapangan.

Cool Shelter merupakan pengembangan dari program Cool House RAFLESIA (Rumah Reflektif Surya Indonesia), yaitu model hunian rendah karbon berbasis teknologi reflektif surya yang mulai diterapkan sejak tahun 2024 dalam program renovasi rumah tidak layak huni. Hingga saat ini, lebih dari 70 unit rumah telah terbangun di berbagai provinsi di Indonesia, termasuk Aceh, Jawa Barat, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Banten, dan Jawa Tengah. Pengalaman tersebut menjadi dasar pengembangan konsep Cool Shelter sebagai solusi hunian sementara untuk penanganan darurat pascabencana, khususnya di wilayah yang terdampak banjir bandang.

Di bawah ini merupakan salah satu Cool House RAFLESIA di Aceh Timur yang juga terkena dampak bencana banjir pada akhir November 2025 lalu.

Gambar: (kiri) Kondisi sebelum terkena banjir; (kanan) Kondisi setelah terkena banjir.

Gambar: Progress pembangunan Cool Shelter di Desa Grong-Grong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur (20-12-2025).

Secara teknis, Cool Shelter menggunakan sistem rumah panggung untuk mengurangi risiko genangan ulang di wilayah rawan banjir. Bangunan memiliki dimensi standar 4 × 12 meter dengan luas total 48 m², sehingga memadai untuk penampungan warga pada fase tanggap darurat dan pemulihan. Struktur utama menggunakan rangka baja ringan dengan pondasi umpak yang dapat menyesuaikan kontur tanah serta memberikan stabilitas tambahan pada kondisi tanah basah pascabencana. Elevasi bangunan ditetapkan minimum 60 cm dari permukaan tanah dan dapat disesuaikan dengan tinggi genangan setempat guna menjaga kualitas udara, mengurangi kelembapan, serta mencegah masuknya air ke dalam ruang.

Ketinggian ruang sebesar 2,4 meter dari lantai ke ring balok dirancang untuk memastikan sirkulasi udara yang optimal. Sistem ventilasi silang diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan termal melalui aliran udara alami sehingga mendukung prinsip pendinginan pasif tanpa ketergantungan pada sistem mekanis. Dalam konfigurasi darurat, satu unit shelter dapat menampung 30–36 orang, bergantung pada pengaturan tata ruang internal dan kebutuhan lapangan.

Atap dan dinding bagian luar menggunakan material reflektif surya berbasis cat BeCool® untuk menurunkan suhu ruang dan mengurangi akumulasi panas, selaras dengan standar kenyamanan termal pasif yang menjadi karakteristik teknologi RAFLESIA. Sistem konstruksi dirancang modular guna memudahkan mobilisasi, percepatan pembangunan, serta pemeliharaan rutin. Seluruh komponen dapat dibongkar-pasang untuk mendukung peningkatan kapasitas dan perbaikan berkala, dengan estimasi umur layanan bangunan antara 5 hingga 10 tahun sesuai kebutuhan hunian transisi pascabencana.

Gambar: Kondisi Cool Shelter yang Sudah di Huni

Program Cool Shelter Aceh menunjukkan bahwa respons kebencanaan dapat diintegrasikan dengan pendekatan akademik berbasis riset dan teknologi konstruksi adaptif. Melalui kolaborasi lintas pihak dan pendampingan teknis di lapangan, inisiatif ini tidak hanya menghadirkan solusi hunian sementara, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam kontribusi nyata terhadap ketahanan masyarakat menghadapi bencana.

Inisiatif pembangunan Cool Shelter ini juga sejalan dengan komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penyediaan hunian yang aman, tangguh, dan inklusif di wilayah terdampak bencana. Selain itu, program ini turut mendukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penerapan teknologi reflektif surya dan prinsip pendinginan pasif yang berkontribusi pada pengurangan emisi dan adaptasi terhadap risiko iklim. Penggunaan sistem konstruksi modular yang efisien dan material rendah karbon juga beririsan dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dalam pengembangan solusi infrastruktur tanggap darurat berbasis inovasi keilmuan (Dr. Eng . Beta Paramita/HH).